Senin, 19 Januari 2015

Bagaimana hukum mendirikan kotak amal di tengah jalan , yang bisa mengakibatkan macet dan membahayakan pengguna jalan raya tersebut….?

Beramal soleh adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Allah swt, dan merupakan salah satu perbuatan yang akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah swt jika dilakukan dengan ikhlas, halal, dan dilakukan dengan cara yang benar.

Allah swt berfirman :
¨bÎ) tûüÏ%Ïd‰¢ÁßJø9$# ÏM»s%Ïd‰¢ÁßJø9$#ur (#qàÊtø%r&ur ©!$# $·Êös% $YZ|¡ym ß#y軟ÒムóOßgs9 óOßgs9ur ֍ô_r& ÒOƒÌx. ÇÊÑÈ
“Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul- Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak”. (QS Al Hadid : 18)

Apalagi mengajak orang lain untuk beramal soleh, seperti menyumbang sebagian hartanya untuk pembangunan masjid, maka orang yang mengajaknya akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mengikuti kebaikannya.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
16 – (2674)
“Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (Shahih Muslim 2674-16)

Sehingga kita termotivasi untuk berbuat baik, sebagaimana Allah swt perintahkan kepada kaum muslimin untuk senantiasa berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan.
Allah swt berfirman :
 (#qà)Î7tFó™$$sù ÏNºuŽöy‚ø9$# 4 tûøïr& $tB (#qçRqä3s?
“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada” ( Al Baqarah : 148)

Namun apabila kebaikan dilakukan dengan cara yang kurang tepat maka akan menimbulkan permasalahan seperti menyangkut hal kepentingan umum.
Sebagaimana yang terjadi pada pembangunan masjid, maka biasanya panitia akan membuat sarana untuk orang bersedekah salah satunya adalah kotak amal, yang akan di tawarkan kepada masyarakat yang melintas di sekitar jalan masjid tersebut. Dan ada juga kotak amal yang diletakkan di tengah jalan dengan maksud agar memudahkan pengendara yang akan bersedekah ke masjid. Namun demikian ternyata keberadaan kotak amal ditengah jalan tersebut menimbulkan permasalahan baru, yaitu macet. Ditambah dengan kondisi jalan yang sempit, rusak dan berlubang sehingga menambah kemacetan yang sangat panjang terutama di waktu pagi hari yang mana banyak orang ingin mencari nafkah. Kemacetan tak terhindari sehingga sebagian orang merasakan kejengkelannya dengan keberadaan kotak amal yang berada ditengah jalan tersebut dan mengganggu (kafful adza) pengguna jalan yang melintasi jalan tersebut.
Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu 'anhu berkata, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

((إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ))، فَقَالُوا: مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا، قَالَ: ((فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا))، قَالُوا: وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ، قَالَ: ((غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ)).


“Janganlah kalian duduk-duduk di (tepi) jalanan,” mereka (para sahabat) berkata,”Sesungguhnya kami perlu duduk-duduk untuk berbincang-bincang.” Beliau berkata,”Jika kalian tidak bisa melainkan harus duduk-duduk, maka berilah hak jalan tersebut,” mereka bertanya,”Apa hak jalan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Menundukkan (membatasi) pandangan, tidak mengganggu (menyakiti orang), menjawab salam, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar”. HR Bukhori

Bersedekah merupakan perbuatan sunnah yang sangat dianjurkan, namun memberikan jalan hak orang lain juga suatu perbuatan sunnah yang sangat dianjurkan. Bagaimana jika kedua hal tersebut sama-sama perbuatan baik maka kita harus melihat akibat dari perbuatan tersebut ditimbang dari fiqh prioritas. Mana yang harus di dahulukan memberikan peluang orang untuk beramal sedekah namun satu sisi mengganggu kepentingan umum atau berbuat kebaikan dengan memberikan hak bagi pengguna jalan.
Para ulama fiqh membuat suatu kaidah, yang berbunyi :
تُقَدَّمُ مَصْلَحَةُ الْجَمَا عَةِ عَلَي مُصْلَحَةِ الفَرْدِ
“ Mendahulukan kepentingan social atas kepentingan individu “

Jadi suatu perbuatan yang bertujuan untuk kemaslahatan kepentingan umum (memberikan hak pengguna jalan bagi orang banyak) harus didahulukan atas kepentingan individu ( pembangunan masjid).
Di dalam suatu hadits disebutkan:
عَنْ أَبِـيْ سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الْـخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّـى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ 

Dari Abû Sa’îd Sa’d bin Mâlik bin Sinân al-Khudri Radhyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Keberadaan kotak amal di tengah jalan tersebut dapat membahayakan orang lain, membuat orang lain celaka. Karena kita tidak boleh membuka peluang terjadinya bahaya dan lebih baik mencegah dari pada mengobati sesuatu yang sudah terjadi. 

Sesungguhnya banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengajak orang bersedekah yang tidak mengganggu kepentingan umum, yang dapat dilakukan dengan cara lain seperti membuat spanduk, pamflet, proposal kepada perusahaan sekitar. yang berisikan ajakan untuk bersedekah. Dan juga mengedukasi masyarakat untuk membiasakan diri jika ingin beramal bisa dilakukan dengan cara-cara yang lebih baik dan menjaga kehormatan agamanya.


Wallahu A’lam bishawab

Jumat, 24 Oktober 2014

Abu Muslim Al Khurasani dan perannya dalam kejatuhan Bani Umayyah

ABU MUSLIM AL-KHURASANI
(Isfahan, Iran, 726 – Irak, 775). Pemimpin gerakan agama dan politik di Khurasan, Persia (Iran), yang paling berjasa kepada Bani Abbas dalam usaha menumbangkan kekuasaan Dinasti *Umayyah. Ada dua versi mengenai namanya. Pertama, nama aslinya adalah Ibrahim bin Usman dengan nama panggilan (kunyah) Abu Ishaq. Kedua namanya kemudian diubah menjadi Abdurrahman bin Muslim dengan panggilan Abu Muslim ketika bergabung dengan Ibrahim bin Muhammad bin Ali al-Abbasi, yang dikenal dengan nama Ibrahim al-Imam, pimpinan tertinggi gerakan *Abbasiyah. Nama al-Khurasani di nisbahkan kepada daerah Khurasan.
Ketika berumur tujuh tahun, ia dibawa ke *Kufah dan tinggal sebagai pelayan – dalam versi lain sebagai budak – Isa bin Ma’qal al-Ajli dan Idris bin Ma’qal al-Ajli. Mereka dalah pendukung gerkan bawah tanah yang ingin merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Kedua majikanya ini ditangkap oleh gubernur Yusuf bin Umar dari bani Umayyah. Abu muslim kemudian diajak oleh Sulaiman bin Kasir, seorang perantara gerakan Abbasiyyah, untuk bergabung. Ia menerima ajakan itu dan menemui Ibrahim al-Imam.
Pada tahun 128 H (745 – 746 M) ia ditugaskan oleh Ibrahim al-Imam sebagai dai gerakan Abbasiyah di Khurasan. Menurut Ibnu Asir (sejarawan muslim terkenal, 1160 – 1233), Abu Muslim berusia 19 tahun ketika menerima tugas itu.dalam usia semuda itu ia menampakkan kepemimpinan dan keberanian yang luar biasa. Ia mencapai sukses besar di Khurasan. Ia berhasil menarik simpati sebgian besar penduduk – pernah dalam sehari ia mengumpulkan penduduk dari 60 desa di dekat Marv. Banyak tuan tanah Persia (Dihkan) yang tertarik menjadi pengikutnya. Di daerah ini ia berkampanye untuk mengobarkan sentimen massa golongan Alawiyyin (keturunan Ali bin Abi Talib), golongan *Syiah dan orang-orang persia terhadap Bani Umayyah dan menindas mereka. Abu Muslim mengajak mereka bekerjasama dengan gerakan Abbasiyah untuk mengembalikan kekhalifahan kepada keturunan Bani *Hasyim, baik dari Abbas bin Abdul Muttalib, paman Nabi SAW, maupun dari keturunan Ali bin Abi Talib. Gerakan Abbasiyyah mendapat dukungan dari golongan Alawiyyin dan Syiah karena dalam kampanyenya memakai semboyan li ar-rida min ali Muhammad (demi keridaan kelurga Nabi Muhammad).
Gerakan Abbasiyah pada mulanya berkampanye secara diam-diam melalui dai-dai yang dikirim ke berbagai penjuru daerah kekuasaan Bani Umayyah dengan menyamar sebagai pedagang atau jema’ah haji. Hal ini dilakukan karena mereka belum berani melawan Bani Umayyah secara terang-terangan. Perlawanan senjata baru dimulai setelah Abu Muslim al-Khurasani bergabung ke dalam gerakan itu. Pada tahun 129 H (747 M) Ibrahaim al-Imam mendorong Abu Muslim untuk merebut Khurasan dan membinasakan orang-orang Arab yang mendukung Bani Umayyah. Rencana ini oleh penguasa Bani Umayyah, Marwan bin Muhammad, sehingga Ibrahim al-Imam ditangkap dan kemudian dihukum mati. Kepemimpinan lalu beralih ketangan dausaranya, Abdullah bin Muhammad, yang dikenal dengan nama *Abu Abbas as-Saffah (Ar.: as-Saffah = si penumpah darah). Pemimpin baru ini tetap memberi kepercayaan besar pada Abu Muslim untuk memimpin perlawanan di daerah Khurasan, sedangkan Abu Abbas dan tokoh-tokoh gerakan Abbasiyah lainya dari keturunan Bani Hasyim, seperti Abu Ja’far *al-Mansur, Isa bin Musa bin Muhammad, dan Abdullah bin Ali, menggerakkan pemberontakan di Kufah, *Damascus, *Palestina, *Yordania, dan daerah-daerah bagian barat wilayah kekuasaan Bani Umayyah.
Abu muslim menghimpun seluruh kelompok yang menentang kekuasaan Bani Umayyah di Khurasan. Dengan kepandaianya ia memanfaatkan pertentangan antara sesama orang Arab, yaitu orang Yaman dan orang Mudar, di Khurasan yang sudah berlangsung sejak zaman Hisyam bin Abdul Malik (724 – 743), putra Abdul Malik bin Marwan. Pada masa itu orang-orang Yaman mendapat kedudukan baik dalam pemerintahan di Khurasan karena gubernur Khurasan, As’ad bin Abdullah al-Qasri, berasal dari Yaman. Orang-orang Mudar disisihkan dari pemerintahan sehingga mereka menjadi tidak menyukai orang-orang Yaman. Sebaliknya, ketiak gubernur Khurasan dijabat oleh orang Mudar, maka orang-orang Yaman disingkirkan.
Ketika abu Muslim mulai bergerak di Khurasan, ia mendekati pemimpin orang-orang Yaman, al-Kirmani, untuk bahu membahu menjatuhkan gubernur Khurasan, Nasr bin Sayyar, seorang keturunan Mudar. Dengan taktik adu domba, Gubernur Nasr bin Sayyar dapat dikalahkan. Setelah itu Abu Muslim dengan bantuan orang-orang Yaman dapat merebut kota Marv dan Nisabur serta mengalahkan kekuasaan Bani Umayyah di Khurasan. Sementara itu Abu Abbas merebut pusat kekuasaan Bani Umayyah di Damascus sehingga khalifah terakhir Bani Umayyah, Marwan bin Muhammad, melarikan diri ke Mesir. Namun akhirnya ia dapat ditangkap oleh pasukan Abbasiyah yang mengejarnya.
Abu Bakar as-Saffah kemudian dibaiat khlalifah Bani Abbas pada tahun 750. abu Muslim diangkat oleh Abu Abbas menjadi gubernur di Khurasan. Selama menjadi gubernur ia menaruh perhatian besar pada penataan pemerintahan propinsinya dan keamanan daerah perbatasan. Ia mendirikan masjid-masjid di Marv dan Nisabur, gedung-gedung besar di Marv dan Samarkhand, dan tembok besar yang mengelilingi Samarkhand dn sekitarnya. Ia menugaskan dua orang perwiranya, Siba bin Nu’man al-Azdi dan Ziyad bin Saleh al-Khuzai, untuk memerangi musuh didaerah Transoksania (Asia Tengah). Pada bulan Zulhijah 133 (Juli 751) pasukan Cina berhasil dikalahkan di Talas. Atas perintah Abu Abbas, Abu Muslim membunuh Abu Salmah al-Khallal, dai gerakan Abbasiyah di Kufah yang ditunjuk oleh Ibrahim al-Imam, karena ia berencana mengalihkan kekhalifahan ke tangan golongan Alawiyyin.
Sewaktu pemerintah Abu Ja’far al-Mansur, terjadi pemberontakan yang didalangi oleh pamanya, Abdullah bin Ali, yang ingin menjadi khalifah sepeninggal Abu Abbas. Abu Muslim ditugaskan memerangi pemberontakan ini. Pasukan Abdullah bin Ali dapat dikalahkan, tetapi Abdullah dapat meloloskan diri. Ia menyerahkan diri ketika Khalifah berjanji menjamin keselamatanya. Ternyata ia ditahan dan kemudian dibunuh setelah ditahan selama sembilan tahun.
Khalifah Abu Ja’far al-Mansur menyadari bahwa Abu Muslim juga menjadi ancaman bagi kedudukanya karena kekuasaanya yang besar di Khurasan. Al-Mansur bermaksud memindahkan Abu Muslim dari Khurasan untuk menjadi gubernur Syam (Suriah) dan Mesir. Abu Muslim menolak karena menganggap Khurasan miliknya. Khalifah al-Mansur memanggil Abu Muslim secara baik-baik untuk mengahadapnya. Tetapi kemudian ia dibunuh. Setelah peristiwa ini, pengikut Abu Muslim dari sekte Khurramiyah mengadakan pemberontakan, namun dapat dihancurkan oleh pasukan Abbasiyah. Sekte ini percaya bahwa Abu Muslim tidak mati dan kelak akan menyebarkan keadilan di muka bumi.

sumber : 



Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah/Prof.DR.Abdussyafi Muhammad Abdul Lathif;Penerjemah:Masturi Ilham dan Malik Supar; Editor:Fedrian Hasmand; cet.1—Jakarta:Al Kautsar,2014.

Dinasti Umawiyah/Dr yusuf Al Isy;penerjemah:Iman Nurhidayat & Muhammad Khalil; Editor: Muhammad Ihsan; cet.1 – Jakarta,Pustaka Al kautsar,2007.


Mukhtasar Al Bidayah wa An Nihayah/Al Imam Ibnu Katsir; penerjemah, Asmuni; editor, mukhlis B Mukti, Fajar Inayati – Jakarta : Pustaka Azzam, 2008.

Tarikh Khulafa/imam Suyuti; penerjemah, Samson Rahman, MA—Jakarta: Pustaka Al kautsar, 2000.
 

Selasa, 29 Juli 2014

DELAPAN FAKTOR PENAMBAH DAN PENGUAT KEIMANAN

Ada beberapa Faktor yang harus dilakukan sehingga menjadikan seseorang itu dapat bertambah keimanannya. 

1. Menjalankan kewajiban dan komitmen terhadapnya.
Allah swt memerintahkan kita untuk melakukan sholat, zakat, puasa, tilawah qur'an. dan amalan soleh lainnya yang harus kita jalankan dan berdampak baik pada kehidupan sehari-hari. karena amal yang  berkesinambungan walaupun sedikit itu lebih baik dari pada amal yang besar tetapi hanya sesekali bahkan jarang dilakukan. dan ber-sungguh-sungguh dalam melakukannya bahkan melebihi apa yang telah rasul perintahkan. Rasulullah saw bersabda: " Tidaklah hamba-ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai melebihi yang Aku fardhukan kepadanya." HR Bukhori

2. Berdzikir
Allah swt berfirman;
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar- lah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal." QS  Al Anfal : 2

3. Berteman dengan orang-orang yang baik.
Berteman dengan orang-orang yang baik dan mencari lingkungan yang baik, sehingga dapat menambah keimanan kita. Teman yang dapat mengingatkan kita ketika kita khilaf.
Allah swt menganjurkan kepada kita untuk berteman dengan orang yang sabar lagi baik, yang selalu mengingat Allah swt disetiap waktu dengan mengaharap keridhoan-Nya. 
Allah swt berfirman:
“Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. QS Al Kahfi:28


4. Mengingat kematian.
Rasulullah saw ditanya, siapakah orang yang paling cerdik, Rasulullah menjawab :" yaitu yang paling banyak mengingat dan mempersiapkan diri untuk kematian, mereka mendapat kemulyaan dunia dan akhirat". (HR Thabrani).
Ketika seseorang mengingat mati lalu menyadari bahwa dirinya banyak melakukan perbuatan dosa maka ia akan segera bertaubat dan melakukan amalan-amalan soleh. sehingga bertambahlah iman mereka dengan penuh keridhoan kepada Allah swt.

5. Mengenal Asmaul Husna.
6. Menghadiri majelis ilmu.
Dengan menghadiri majelis Ilmu dan dzikir bisa menjadi penambah dan penguat iman seseorang.
Rasulullah saw bersabda: " Tiada suatu kaum yang duduk i majlis dengan berdzikir kepada Allah, kecuali malaikat akan mengelilingi mereka, dipenuhi dengan rahmat, ketenangan akan diturunkan kepada mereka dan Allah menyebut mereka pada hamba-hamba yang bersaman-Nya." HR Muslim

7. Melakukan Tafakur.
Dengan merenungi penciptaan alam, penciptaan manusia, proses janin sehingga menjadi manusia, silih bergantinya siang dan malam. turunnya hujan maka akan semakin yakinlah seseorang bahwa ada suatu Dzat yang Maha besar dan kuasa untuk dapat mengatur seluruh sendi kehidupan.

8. Berdo'a.
Berdo'a memohon kepada Allah swt untuk senantiasa menjaga keimanan kita, menjadikan kita selamat dunia dan akhirat, aman sentosa, memohon untuk diberika kekuatan jasmani dan rohani agar senantiasa dapat beribadah kepada-Nya. adalah salah satu upaya kita agar bertambah keimanan kita, sehingga menjadi orang-orang yang beruntung. 
Rasulullah saw bersabda"
"Yaa Allah hiasi kami dengan perhiasan iman, dan jadikanlah kami penunjuk jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk". HR Ahmad, Nasai dan Hakim

Demikianlah beberapa Faktor yang dapat menambah dan penguat keimanan kita, mudah-mudahan kita dapat melakukannya dan menjalankannya dengan penuh keridhoan kepada Allah swt. Amin..amin Ya Rabbal Alamin.
Wallahu A'lam bishawab Wassamualaikm warahmatullahi Wabarakaatuh
   

Rabu, 25 Juni 2014

Yakinlah dengan Kemampuan Anda
Dr Ahmad zuwail peraih Nobel dalam bidang kimia pada tahun 1999, biasa menulis dalam buku tulisnya dan di depan pintu kamarnya " Doktor" padahal dia masih duduk di bangku sekolah dasar, dan ayahnya juga kerap memanggilnya Doktor Ahmad.
Winston Churchill, mantan perdana mentri Inggris berkata, " Jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah menyerah." Pernyataan ini diungkapkan oleh Winston Churchill yang pernah tidak lulus di kelas 6 Sekolah Dasar dan tergolong murid yang paling pemalas di kelasnya.
Untuk menyiapkan penaklukan Konstantinopel, Muhammad Al Fatih sampai tidur di atas peta perangnya yang dia buat.

Selasa, 03 September 2013

4 perbuatan dosa besar

4 PERBUATAN DOSA BESAR

Dosa adalah suatu perbuatan yang kita tidak suka apabila dilihat/diketahui oleh orang lain. Setiap manusia pasti pernah berbuat dosa baik itu yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Dan dari perbuatan dosa itu ada yang termasuk kedalam kategori dosa besar dan dosa kecil. Kalimat dosa besar dan dosa kecil ini dapat kita temui di dalam Al Qur'an surat An Nissa ayat 31.

Allah swt berfirman:
" Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan-kesalahan kamu yaitu dosa-dosa kamu yang kecil dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)". 

Diantara perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan dosa besar, adalah:
1. Syirik kepada Allah swt
2. Durhaka kepada orangtua
3. Membunuh, tanpa alasan syar'i
4. Sumpah palsu

Dari Hadits
Abdullah bin Amr bin Al 'Ash ra. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, "Dosa-dosa besar adalah mempersekutukan Allah dengan sesuatu, durhaka kepada orang tua, membunuh dan sumpah palsu." ( HR Bukhori).

Jelas di dalam Hadits disebutkan bahwa keempat hal tersebut merupakan perbuatan dosa besar, paling tidak ada empat dosa besar yang harus kita ketahui dan pahami kenapa perbuatan tersebut menjadi penyebab dosa besar?

Pertama, Al isyraaku billahi (mempersekutukan Allah), adalah perbuatan dosa besar yang sangat menghinakan dan merendahkan Allah swt, karena perbuatan syirik sama dengan menyamakan Allah swt dengan salah satu makhluk-Nya (dengan selain Allah) secara langsung atau tidak langsung, secara nyata atau terselubung.

Allah swt berfirman, 
" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.......". QS Al Maidah : 72

" Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedholiman yang besar". QS Lukman : 13

Rasulullah saw bersabda, 
" Maukah kalian kuberitahu dosa yang paling besar dari dosa-dosa besar ? yaitu Syirik kepada Allah swt". 

Itulah kenapa perbuatan syirik termasuk dosa besar, karena syirik melakukan kedholiman kepada Allah, kepada sipelaku dan kepada yang disembah. Namun demikian, masih banyak manusia yang berbuat syirik kepada Allah swt. mereka meminta pertolongan kepada dukun (paranormal) padahal merekalah yang tidak normal. Meyakini keris, tombak, dn benda-benda keramat lainnya, yang dapat mendatangkan keberuntungan menurut mereka. A'udzubillahimindzalik.

Kedua, Uququl walidain yaitu durhaka kepada kedua orangtua. adalah perbuatan dosa besar, karena perbuatan sang anak yang menyakiti hati orangtua, seperti; bersikap merendahkan orangtua, memandang orangtua dengan pandangan yang menghinakan, tidak taat kepada orangtua, mengabaikan hak-hak mereka dan melakukan perbuatan yang mereka tidak suka. Itu semua merupakan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan laknat dari Allah swt.
Allah swt berfirman,
"Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". QS Al Israa : 23

dari Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, " Terlaknat orang yang mencaci ayahnya, terlaknat orang yang mencaci ayahnya".

dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda, " Allah melaknat 7 golongan dari makhluknya dari atas langit yang ketujuh: Terlaknat orang yang durhaka pada dua orangtuannya".

Pada kenyataannya masih banyak seorang anak yang berbuat dzolim kepada orangtuanya, hanya karena mereka sudah tua renta. Seorang anak menjadi berani kepada orangtua karena merasa telah menanggung kehidupan mereka yang telah berusia lanjut, padahal itu semua adalah hutang budi anak kepada orangtuanya.

Ketiga, qatlunnafsi (membunuh) tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat adalah perbuatan dosa besar. Menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja merupakan kejahatan tingkat tinggi, dapat menjadi penyebab permusuhan dan dendam yang berkepanjangan bagi keluarga korban yang dibunuh. Merusak persaudaraan sesama muslim, apalagi hanya karena ingin memperebutkan jabatan sehingga saling bunuh. Merampas harta orang lain sehingga harus membunuh teman sendiri, padahal harta hanyalah kesenangan sesaat.

Allah swt melarang membunuh tanpa alasan syar'i.

Allah swt berfirman, di dalam QS Al An'am : 151
" wala taqtulun nafsal latiy harramallahu illa bilhaq"
artinya: " jangan membunuh nyawa yang diharamkan Allah kecuali dengan kebenaran".

Pada dasarnya semua makhluk hidup tidak boleh dibunuh baik itu manusia ataupun hewan, kecuali yang diperbolehkan oleh pembuat syari'at, yaitu Allah swt. Pembunuhan yang diperbolehkan dalam syari'at adalah sbb;
1. Orang yang sudah menikah lalu berzina
2. Membunuh orang
3. Murtad
4. Keluar dari jamaah kaum muslimin

Ibnu Mas'ud ra. berkata, Rasulullah saw bersabda,
" Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasul-Nya, kecuali karena satu dari tiga hal berikut; Tsayyib (orang yg sudah menikah/duda/janda) yang berzina, membunuh orang, dan meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jama'ah." (HR Bukhori dan Muslim).

Hukuman duniawi terhadap seorang pembunuh dalam Islam sangatlah berat yaitu dibunuh balik sebagai hukuman qishash ke atasnya. 
Allah swt berfirman'
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS. Al-Baqarah: 178).

Orang yang melakukan pembunuhan akan mendapatkan siska yang sangat pedih di akhirat nanti, dan di dunia dia akan masuk ke dalam penjara serta dikucilkan dari kehidupan masyarakatnya. Tetapi pada kenyataannya masih saja orang yang membunuh, mereka tidak takut ancaman yang Allah swt berikan kepada mereka.


Keempat, Alyaminul ghomuus (sumpah palsu), sumpah palsu juga termasuk ke dalam perbuatan dosa yang sangat besar dan mendapat ancaman yang keras serta murka dari Allah swt. Kenapa sumpah palsu mendapatkan ancaman yang sangat keras dari Allah swt ?, karena dengan sumpah palsu berarti mereka telah melakukan pendustaan atas nama Allah swt. Berbohong dengan menjual nama Allah swt demi mendapatkan yang diinginkannya. Menipu orang lain dan juga menipu Allah swt, itulah mengapa orang yang melakukan sumpah palsu mendapatkan kemurkaan dari Allah swt. 


Ibnu Mas'ud ra. berkata, bahwa Nabi saw bersabda, " Barangsiapa yang bersumpah untuk mendapatkan harta seorang Muslim yang bukan haknya, maka dia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan murka kepadanya. "  Ibnu Mas'ud ra. berkata, " Kemudian Rasulullah membacakan dalil penguatnya dari ayat Al Qur'an, " Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya dengan Allah swt dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak pula akan meyucikan mereka. bagi mereka azab yang pedih." (QS Ali Imran : 77)(Muttafaq 'alaih)  


Haram sengaja berdusta dengan sumpah serta kecaman bagi pelaku yang melakukannya, terutama bila digunakan sebagai cara untuk menguasai harta orang lain dengan batil, atau menghilangkan hak-hak orang lain, sehingga hukuman yang diberikan kepada pelaku sumpah palsu sama dengan pelaku syirik, membunuh dan durhaka kepada orangtua. yaitu, siksa yang pedih di akhirat.

Demikianlah 4 perbuatan dosa besar yang harus kita hindari, jangan sampai kita terjerumus ke dalamnya. Mendapat murka Allah swt dan di masukkan ke dalam neraka jahanam, sehingga kita merugi di dunia maupun di akhirat.

sumber: Syarah dan Terjemah Riyadhush Shalihin, karya Imam Nawawi
            Aqidah Islam, Arif Ma'ruf LC

Jumat, 23 Agustus 2013

HUJATAN TERHADAP ULAMA DAN TOKOH-TOKOH IKHWANUL MUSLIMIN

IMAM ASYAHID HASAN AL BANNA
Al Ikhwan Al Muslimun adalah gerakan Islam terbesar abad modern yang didirikan oleh As Syahid Hasan Al Banna pada tahun 1928 M di Mesir. Fikrah dan jaringannya tersebar  keberbagai penjuru dunia mendapat sambutan yang luar biasa dan antusias dari mayoritas umat Islam. Umat menyambutnya dengan tangan terbuka dan senang hati seperti antrian pasien yang telah lama menanti seorang tabib yang akan mengobati penyakit mereka. Namun, tidak dapat dipungkiri juga ada sebagian kecil umat yang menentangnya melalui berbagai media, majelis, dan lembaga yang mereka miliki. Pandangan sinis, Su'uzhann, bahkan tuduhan terus-menerus dilayangkan ke arah Ikhwan. Bahkan di mata mereka, Ikhwan adalah gerakan yang sama dengan tong sampah.*1
Tidak ada kekhawatiran sedikitpun jika berbagai celaan itu datangnya dari kalangan atheis, komunis, sosialis, kapitalis, sekuleris, hedonis dan berbagai isme materealis lainnya, karena itulah tugas mereka. Namun, kenyataan pahit bahwa celaan itu datangnya dari saudara seiman; kawan seperjuangan yang telah mendakwakan dirinya sebagai penyeru dakwah tauhid, pemberantas bid'ah dan syirik. Para Ulama dan tokoh-tokoh dakwah Islam dihina serendah dasar lautan. Mereka mengolok-olok memberi gelar Mubtadi' dan fasiq, serta menyingkirkan karya-karyanya dari peredaran. Sungguh tidak ada pembenaran sedikitpun dari perilaku ganjil mereka; tidak ada dalam Al Qur'an; tidak ada dalam hadits; dan tidak ada dalam atsar para sahabat dan salafush shalih.
Allah swt memang pernah mencela, Rasul pun demikian. Namun, semua itu ditujukan kepada manusia-manusia yang memang pantas menerimanya, seperti Fir'aun, Abu jahal, Abu Lahab, Bani Israel, dan penyembunyi kebenaran, kaum munafik. Semua telah dicela Allah swt dan Rasul-Nya. 
Namun, jika yang dicela adalah para ulama dan tokoh-tokoh dakwah yang telah diakui oleh umat Islam sedunia- bahkan diakui pembesar-pembesar ulama masa kini, termasuk panutan pencela-hal itu adalah pandangan yang sangat aneh dan tidak mengenakkan. Amat baik jika mereka memperbaiki dan merenovasi pola pikir , akhlak, dan adab mereka yang bermasalah.
Mereka menganggap telah melakukan upaya tahdzir.*2 -sebenarnya lebih tepat disebut celaan- terhadap ulama dan tokoh-tokoh Ikhwan seperti; Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf al Qardhawi, Muhammad al Ghazaly, Abul A'la al Maududy, dan Abdul Qadir 'Audah. Tahdzir yang mereka inginkan didapat, begitu pula ketenaran. Banyak orang akan berkata, " Lihat si fulan berani men-tahdzir Yusuf al Qaradhawy" sehingga nama mereka diabadikan sebagai seorang yang berani menelanjangi kehormatan para ulama. Sejarah telah berjalan, manusia telah berganti, tetapi mereka yang tercaci tetap hidup di hati umat dan abadi karena keikhlasan mereka dalam fi sabilillah dengan darah dan pena mereka.
Banyak sekali hujatan dan celaan yang dilakukan oleh orang atas nama Ahlusunnah terhadap Ikhwan dan gerakan lain. sebagai contoh, ia berkomentar terhadap al Maududy, " Tulisannya kekal, sedang si penulis sudah biasa".
Syaikh Muhammad bin Hadi -semoga Allah swt memberi petunjuk kepadanya dan kita -pernah mengatakan bahwa Sururiyin dan Ikhwaniyin adalah ahli bid'ah paling berbahaya zaman ini. Yusuf al Qaradhawy dianggap ahli bid'ah dan al Qaradha (sang penggunting) Assunnah. Hasan Al Banna dituduh sebagai sufi berpaham bathiniyah (paham sesat dalam tasawwuf).
Ya Allah....! Kami tidak mengerti hal yang membuat Muhammad bin hadi bersikap seperti itu. Apakah ia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa fatwa Yusuf al Qaradhawy tentang jihad di palestina peperangan melawan israel adalah bukan masalah Aqidah, melainkan mereka telah menyerang dan mengusir penduduk Palestina -adalah fatwa paling jahat!
fatwa seperti itu adalah pandangan jumhur (mayoritas) ulama. jumhur ulama mengatakan peperangan kita dengan orang kafir bukanlah masalah aqidah, melainkan karena adanya permusuhan dan pengusiran yang mereka lakukan terhadap kita. Seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah dalam Risalah Qital. Apakah Muhammad bin Hadi menganggap jumhur ulama dan Ibnu Taimiyyah berfatwa jahat?
Masih kurang puas, Zaid bin Hadi membuat seruan terbuka kepada segenap toko buku dan penerbitan yang isinya agar manusia menjauhi buku-buku, kaset-kaset, dan selebaran yang dikarang Sayyid Quthb, Muhammah al Ghazaly, Muhammad Surur, Sa'id Hawwa, Salman al 'Audah, 'Aidh al Qarny. Demikianlah sebagian celaan itu, terjadi dan terus terjadi hingga hari ini. Hal itu pun diikuti sebagian kecil pemuda yang awam terhadap masalah sebenarnya sebagai taqlid mereka terhadap tokoh-tokoh mereka.
Seharusnya pemuda itu selain mempelajari akidah, fiqh, tafsir, dan hadits juga harus mempelajari cara seorang muslim berakhlak terhadap muslim lainnya, terhadap orangtua, guru, orang yang berbeda pandangan, dan ulama.
Sesungguhnya Rasulullah saw mengajarkan umat Islam untuk menghormati ulama dan mencintainya. Jika mereka keliru dalam ijtihad-nya, kita serahkan kepada ulama yang ilmunya mumpuni untuk memberi koreksi secara ilmiah dan etis tanpa mengingkari haknya untuk tetap memperoleh penghargaan satu pahala dari Allah Swt. Jika mereka benar, kita diajarkan untuk menerimanya karena kebenaran hakikatnya hanyalah dari Allah Swt. Tidak selayaknya kita malu menerima kebenaran itu walau datangnya dari musuh, apalagi dari ulama. Kesombongan adalah sikap tidak mau menerima kebenaran. 

Sumber : Al Ikhwan Al Muslimun / Farid Nu'man
*1 Penerjemah buku Terorisme dalam Tinjauan Islam ( Al Irhab wa Atsaruhu 'alal Afrad wal Umam-terjemahan langsungnya Teror dan Pengaruhnya atas Individu dam Umat) berkata, " tepat sekali jika gerakan IM dinyatakan sebagai gerakan tong/tempat sampah. Semua yang berbau busuk dan kotor ada di dalamnya." (Zaid bin Muhammad bin Hadi al Madkhaly, Terorisme dan Tinjauan Islam, hlm. 50, catatan kaki no.13). 
*2 Tahdzir adalah upaya ulama uuntuk menerangkan kekeliruan seseorang agar umat berhati-hati dan menjauhi kesalahan orang tersebut. Upaya Tahdzir itu harus dilakukan oleh orang yang mendalam ilmunya, buka para pemuda penuntut ilmu yang usil mulutnya.

Kamis, 15 Agustus 2013

SORGA ITU INDAH

Sorga atau Jannah adalah tempat yang dijanjikan oleh Allah swt bagi orang-orang yang bertaqwa, sorga merupakan balasan kebaikan dan pahala yang agung Ia merupakan kenikmatan yang sempurna tanpa kekurangan sedikitpun, kenikmatan yang banyak , kenikmatan yang hakiki selamanya penuh kenikmatan dan keindahan tiada berakhir sepanjang masa dan belum pernah dilihat oleh mata, belum terbayangkan oleh akal dan perasaan manusia. 

Allah swt berfirman di dalam Hadits Qudsi " Aku persiapkan untuk hamba-hambaku yang sholih sesuatu (sorga) yang belum dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga, dan belum terlintas oleh hati/pikiran manusia".

Lalu Rasulullah membaca ayat 17 dari surat As Sajdah:
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan”. 

Dari keterangan Hadits dan ayat di atas Sorga adalah suatu tempat yang belum pernah satupun orang yang pernah mendatanginya ataupun melihat dan mendengarnya, karena Sorga adalah suatu hal yang ghoib yang hanya akan dinikmati di akhirat nanti, diakhir kehidupan di dunia ini setelah kehancuran dunia dan jagad raya beserta isinya. Namun demikian Rasulullah saw telah memberikan beberapa gambaran tentang kenikmatan-kenikmatan yang ada di dalam Sorga. Pada suatu hari Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya " Tidakkah kalian bersungguh-sungguh meraih Sorga? sesungguhnya Sorga tidak terbayangkan keindahannya demi Allah Sorga adalah cahaya yang cemerlang, pohon-pohon yang indah dan wangi yang meliuk-liuk, istana yang tinggi, sungai yang mengalir, buah-buahan yang ranum, istri yang sangat molek dan cantik, pakaian indah, kekal selamanya, hidup penuh dengan kelapangan dan selalu berseri-seri, berada di tingkat yang tinggi......" (Sunan Ibnu Majah dan shohih Ibnu Hibn).
Diantara kenikmatan-kenikmatan yang terdapat di dalam Sorga adalah;
  1. Telaga Al Kautsar yang berarti kenikmatan yang banyak yang airnya dapat diminum, berwarna putih bahkan lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu. Allah swt berfirman di dalam surat Al Kautsar : 1
    إِنَّا  أَعْطَيْنَا كَ الْكَو ثَرَ
    "Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (telaga Al kautsar)".

    Di dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik disebutkan " Al Kautsar adalah telaga yg Allah berikan kepada Rasulullah saw di Sorga. Tanahnya adalah minyak kesturi, warna airnya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu didatngi oleh burung-burung yg lehernya seperti burung onta".
  2. Mata air yang mengalir. Allah swt berfirman:
    فِيهِمَا عَينا نِ تَجْرِ يا ن
    " Di dalam sorga itu ada dua buah mata air yang mengalir". QS Ar Rahman : 50
  3. Buah-buahan, Allah swt berfirman; QS Ar Rahman : 67" Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima".

    Allah swt berfirman : QS An Naba : 31-32
    " Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur".
    Diisyaratkan di kedua ayat tersebut bahwa di dalam Sorga terdapat buah-buahan seperti kurma, delima dan anggur namun demikian bukan berarti buah tersebut sama persis bentuk dan warnanya  dengan yang terdapat di dunia bisa jadi bentuk, warna dan rasanya mirip dengan buah-buahan yang disebutkan di kedua ayat tersebut bahkan lebih nikmat. 
  4. Pintu-pintu Sorga, dari Sahl bin Sa'ad sesungguhnya Rasulullah saw bersabda " Di dalam sorga ada delapan pintu, diantaranya adalah pintu Royyan, pintu yang khusus dimasuki oleh orang-orang yang biasa berpuasa" (HR Bukhori).
  5. Istana, rumah/kemah
    Allah swt berfirman didalam surat Ar Rahman : 72
حُو رٌ مّقصُو رَ تٌ في ا لخيا م
"yang jelita, putih bersih, dipingit dalam al khiyam (kemah/rumah)"

Kenapa kenikmatan akhirat jauh lebih baik dari kenikmatan dunia?
1. Kenikmatan dunia itu sangat sedikit
Katakanlah : " Kesenangan di dunia ini hanya sedikit/sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yg bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun".
2. Kenikmatan di Sorga -meskipun namanya sama dengan dg di dunia- hakekatnya jauh lebih baik dari kenikmatan dunia.
3. Kenikmatan di Sorga tidak membawa dampak yang jelek atau buruk sebagaimana kenikmatan di dunia.
4. Kenikmatan akhirat kekal selamanya.
5. Mencari kenikmatan dunia dan melupakan akhirat akan berakhir dengan penyesalan dan masuk neraka

Dan masih banyak lagi kenikmatan di sorga yang diperuntukkan bagi mereka hamba-hambanya yang sholeh.