Senin, 12 Agustus 2013

Faedah dan kaidah mengetahui Makkiyah dan Madaniyah

Para ulama terdahulu sangat antusias sekali mempelajari dan meneliti Kitab Suci Al Qur’an, mereka menyelidiki surat demi surat dan ayat demi ayat yang terdapat di dalam Al Qur’an untuk ditertibkan sesuai dengan turunnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan suatu kecermatan yang memberikan kepada Ulama peneliti gambaran mengenai kebenaran ilmiah tentang ilmu Makkiyah dan Madaniyyah. Itulah sikap ulama kita dalam melakukan pembahasan-pembahasan terhadap Al qur’an dan juga masalah lainnya.
Merupakan satu kerja yang sangat besar apabila seorang ulama peneliti mnyelidiki turunnya wahyu dalam segala tahapannya, mengkaji ayat-ayat, serta kapan dan di mana turunnya apakah termasuk Makkiyah atau Madaniyah. Apabila terdapat surat atau ayat yang kurang jelas karena banyak ragamnya, maka akan ia kumpulkan, bandingkan dan klasifikasikan mana yang serupa dengan yang turun di Makkah dan mana pula yang serupa dengan yang turun di Madinah.
Para ulama yang meneliti tentang ilmu Maki dan Madani sangat berjasa sekali di dalam mengembangkan ilmu-ilmu yang terdapat di dalam Al Qur’an sehingga memudahkan umat islam untuk mempelajari dan menfasirkan Al Qur’an sehingga bermanfaat bagi umat baik di dunia maupun di akhirat. Sungguh para ulama-ulama tersebut akan mendapatkan kemuliaan dan kebaikan di dunia maupun di akhirat, Rasulullah saw bersabda خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه “sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al qur’an dan mengajarkannya”.
FAEDAH MENGETAHUI MAKKIYAH DAN MADANIYAH
1.       Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al Qur’an.
2.       Meresapi gaya bahasa Al Qur’an dan memanfaatkannya dalm metode berdakwah menuju jalan Allah.
3.       Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al Qur’an.
CARA MENGETAHUI DAN MENENTUKAN MAKKIYAH DAN MADANIYAH
1.       Sima’I Naqli (pendengaran seperti apa adanya)
Cara ini didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yg hidup pada saat menyaksikan turunnya wahyu, atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para sahabat,bagaimana,di mana, dan peristiwa apa yg berkaitan dengan turunya wahyu itu.
2.       Qiyasi Ijtihadi ( bersifat Ijtihad)
Cara ini didasarkan pada cirri-ciri Makkiyah dan Madaniyah, apabila dalam surat Makkiyah terdapat suatu ayat yg mengandung sifat Madani maka dikatakan bahwa ayat itu Madani, begitu juga sebaliknya.

PERBEDAAN MAKKIYAH DAN MADANIYAH
1.       Dari segi waktu turunnya
Makkiyah adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Makkah
Madaniyah adalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di Madinah
Yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Makkah dan Arafah adalah madani seperti yang diturunkan pada tahun penaklukan kota Makkah, misalnya Firman Allah,
QS An Nisaa : 58
* ¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù'tƒ br& (#r–Šxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #’n<Î) $ygÎ=÷dr&          ÇÎÑÈ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak…………….”
Ayat ini diturunkan di Makkah dalam Ka’bah pada tahun penaklukan Makah atau diturunkan pada hari haji Wada’, seperti Firman Allah, “pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (Al maidah :3)
PENDAPAT INI LEBIH BAIK DARI KEDUA PENDAPAT BERIKUT, KARENA IA LEBIH MEMBERIKAN KEPASTIAN DAN KONSISTEN
2.       Dari segi tempat turunnya
Makkiyah adalah yang turunnya di makkah, dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, Hudaibiyah.
Madaniyah adalah yang turunnya di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Quba dan Sil
Pendapat ini berkonsekuensi tidak adanya pengecualian secara spesifik dan batasan yg jelas , sebab yg turun dalam perjalanan seperti Tabuk atau baitul Maqdis tidak termasuk ke dalam salah satu bagiannya, sehingga statusnya tidak jelas Makkiyah atau Madaniyah.
3.       Dari segi sasarannya (pola kalimat)
Makkiyah adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Makkah
Berdasarkan pendapat ini para pendukungnya mengatakan bahwa ayat Al Qur’an yang mengandung seruan “ya ayyuhan nas” (wahai manusia) adalah Makkiyah
Madaniyah adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Madinah
Sedangkan ayat yang mengandung seruan “ya ayyuhal ladzina amanu” (wahai orang-orang yg beriman) adalah Madaniyah.
Namun kalau diteliti dengan seksama , ternyata kebanyakan kandungan Al Qur’an tidak selalu dibuka dengan salah satu seruan itu.penetapan seperti ini juga tidak konsisten. Misalnya surat Al Baqarah itu disebut Madaniyah, tetapi di dalamnya terdapat ayat,
$pkš‰r'¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#r߉ç6ôã$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇËÊÈ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”.
Surat An Nisaa adalah Madaniyah, tetapi dibuka dengan “ya ayyuhan-nas”. Surat Al Hajj juga Makkiyah tetapi didalamnya terdapat juga “wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu…..” ( Al Hajj; 77).
Demikianlah beberapa faedah dan kaidah di dalam menentukan tentang surat dan ayat yang terdapat di dalam Al qur’an apakah masuk ke dalam Makkiyah atau Madaniyah sehingga memudahkan kita untuk mempelajari dan menafsirkan Al Qur’an. Sehingga kita masuk ke dalam kategori yang telah nabi sabdakan kepada umat manusia yaitu menjadi manusia yang terbaik dihadapan Allah swt.

Sumber : Pengantar studi Ilmu Al Qur'an  ( Syaikh Manna al qaththan)

Apa itu Neraka Hawiyah?


Allah swt berfirman di dalam surat Al Qariah ayat 10-11
!$tBur y71 درu‘÷Šr& $tB ÷mu‹Ïd ÇÊÉÈ î‘$tR ر8puŠÏB%tn ÇÊÊÈ


"tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas".

Hawiyah artinya adalah neraka yang paling panas dan merupakan neraka yang paling bawah dan paling  mengerikan ada juga yang mengartikan "Hawiyah" adalah jurang yang paling dalam yang mana orang-orang munafik bersemayam selama-lamanya.

Adapun tingkatan neraka dari yang panas sampai yang paling panas adalah sebagai berikut:


1. Neraka Jahanam, Jahannam
“… Demi Neraka jahanam di datangkan untuk semua orang walaupun hanya mampir dalam 1 hari.” (duh .. berarti setiap orang bakal mampir ..)
Neraka paling "ringan", tingkat yang atas sekali tempat umat Muhammad  yang melakukan dosa kecil maupun besar.

2. Neraka Ladhoh, Luza
Lazha berarti api yang bergejolak karena mampu melepaskan kulit kepada. Tingkat kedua yaitu tempat orang yang tidak mau bertauhid dan mendustakan ajaran Nabi Muhammad saw.  “Sebab itu Kami beri kabar pertakut kamu dengan Neraka Luza (neraka yang menyala-nyala). Tiada yang masuk kedalamnya selain orang yang celaka. Yaitu orang yang mendustakan agama dan berpaling dari pada-Nya.” (Q.S. Al-Lail: 14-16)

3. Neraka Saqar
Saqar berarti burung elang, karena ia memakan daging bukan tulang. 

4. Neraka Khutamah, Hathamah
 “… Tahukah engkau apakah Hathamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan Allah) yang dinyalakan" (Al-Humazah: 5-6). Api itu membakar mulai dari telapak kaki sampai ke hati. Ia juga melontarkan bunga api sebesar istana.

5. Neraka Jahim 
Tingkat ke-lima yaitu neraka jahim. Jahim berarti yang selalu menyala-nyala karena onggokan-onggokan baranya sedemikian besar. Konon satu onggok saja besarnya sebesar dunia.

6. Neraka Sa'ir
Disebut Sa'ir berarti yang membakar, karena selalu membakar para penghuninya. Sejak diciptakan ia tidak pernah padam. Didalamnya ada tiga ratus istana, di tiap istana ada tiga ratus rumah, dan pada tiap rumah terdapat tiga ratus macam siksa berupa ular, kalajengking, rantai, dsb.

7. Neraka Hawiyah, Hawiyah.
Inilah neraka paling bawah, paling mengerikan. Hawiyah berarti jurang yang dalam. Barang siapa yang masuk ke jurang ini, selama-lamanya tidak akan kembali. Dalam neraka ini terdapat sumur hab-hab atau sumur yang menyala-nyala. Konon, jika pintu sumur dibuka, akan keluar api dimana neraka sendiri memohon perlindungan Allah dari panasnya api. Disinilah kaum munafik ditempatkan.
Sudah tidak ada yang lebih panas lagi selain Haawiyah. Jadi api yang kita nyalakan didunia itu, dikatakan di dalam hadits adalah; Api yang dinyalakan didunia itu adalah serpihan dari api neraka yang dibagi seratus, lalu bagian tersebut dicelupkan ke dalam laut selama 40 tahun , lalu diangkat maka jadilah api dunia. 
Dan kalau azab di neraka manusia tidak mati, tetapi hidup. Selama-selamanya tidak mati. Dan di dalam neraka semakin lama semakin panas tidak ada neraka semakin ringan.
Wallahu A'lam Bishawab
Sumber: Al-Qurthubi, Imam. 2004. Rahasia Kematian, Alam Akhirat, dan Kiamat. Alih Bahasa. Penerbit Akbar

Minggu, 11 Agustus 2013

Bentuk-bentuk durhaka kepada orangtua

Kehidupan masyarakat metropolitan yang serba praktis, instan dan dipenuhi dengan materialism dan juga gaya hidup yang hedonism membuat seseorang tidak lagi peduli terhadap lingkungan sekitarnya dan juga lingkungan kerluarganya sehingga mempengaruhi pola pikir mereka, akhlak mereka mulai mengalami perubahan yang dahulu menghormati orangtua adalah sesuatu yang sangat penting dan biasa dilakukan oleh masyarakat sekarang ini menjadi suatu barang yang sangat langka. Ketika seorang anak sudah beranjak dewasa dan memiliki kehidupan sendiri beserta keluarganya lalu kehidupan mereka semakin membaik dari sisi ekonomi disitulah banyak ujian yang datang, banyak orang yang gagal dalam ujian tersebut yaitu mereka tidak lagi menghormati orangtua mereka yang sejak kecil telah mengasuh dan mendidik mereka, sehingga mereka terperosok kedalam kedurhakaan kepada orangtua mereka naudzu billah minzalik. Mereka tidak lagi menghormati orangtua dan menganggap rendah dan hina orangtua padahal Allah swt telah mengingatkan kepada manusia di dalam Al Qur’an.    
Allah swt berfirman,
ö@ygsù óOçFøŠ|¡tã bÎ) ÷LäêøŠ©9uqs? br& (#r߉šøÿè? ’Îû ÇÚö‘F{$# (#þqãèÏeÜs)è?ur öNä3tB$ymö‘r& ÇËËÈ y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# ãNßgoYyès9 ª!$# ö/àS£J|¹r'sù #‘yJôãr&ur öNèdt»|Áö/r& ÇËÌÈ
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”Mereka Itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan telinga dan dibutakan penglihatan mereka”. (QS Muhammad : 22-23)
Allah swt akan melaknat orang yang berbuat durhaka kepada kedua orangtuanya, yaitu yang telah memutuskan hubungan kekeluargaan, biasanya terjadi ketika seorang anak sudah mampu mencari uang sendiri dan merasa paling berkuasa lalu orangtua yang sudah tua renta tidak bisa berbuat apa apa lagi. Dan di dalam hadits diriwayatkan oleh Abu Bakrah, Nufai bin Harits ra., berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda,”maukah kalian aku beritahu tentang dosa yang paling besar?” (Rasulullah saw menanyakannya 3 kali). kami menjawab,”Mau.”Rasulullah saw bersabda,”Menyekutukan Allah swt dan durhaka kepada kedua orangtua.” Nabi yang saat itu bersandar kemudian duduk tegak dan bersabda, ”Juga ucapan bohong dan kesaksian palsu.” Rasulullah saw mengulangi ucapan tersebut terus-menerus hingga kami berkata, ”Andai saja beliau berhenti.”(Muttafaq ‘alaih)
Dari penjelasan hadits tersebut bahwa dosa yang paling besar setelah syirik adalah durhaka kepada kedua orangtua. Didalam riwayat lain disebutkan bahwa dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah swt, durhaka kepada orang tua, membunuh, dan sumpah palsu. Berbuat durhaka kepada kedua orangtua juga menyebabkan seorang anak terhalang masuk syurga, sebagaimana Nabi Shallallahu alahi wasallam, bersabda: Dari Abu Darda, bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wasallam, bersabda “tidak akan masuk syurga anak yang durhaka kepada orangtua, peminum khamar, dan yang mendustkan Qadar”.
Adapun bentuk-bentuk durhaka kepada orangtua adalah sebagai berikut:
1.       Melakukan perbuatan yang menyakiti fisik maupun psikis orangtua, seperti menganiaya orangtua.
2.       Berkata kasar kepada kedua orangtua sehingga mereka sakit hati, dan merasa sedih.
3.       Berkata “Ah” kepada kedua orangtua, atau perkataan “cis’atau perkataan lain yang dapat menyinggung perasaannya, sehingga Allah swt melaknat seorang anak yang berkata “Ah”kepada kedua orangtua nya (QS Al Isra : 23-24)
4.       Bermuka masam ketika disuruh orangtua.
5.       Bakhil (pelit) terhadap orangtua, ketika orangtua sedang membutuhkan bantuan kepada kita, kita enggan memberikan sebagian harta kita kepadanya, padahal Rasulullah saw bersabda bahwa ketika ada seorang laki-laki yang berkata ‘ Ayahku ingin mengambil hartaku’, maka Rasulullah saw bersabda kamu dan hartamu milik ayahmu. (HR Ahmad).
6.       Menyuruh kedua orangtua, seperti; menyapu, mengepel, mencuci bajunya, menyiapkan makanan apalagi jika kedua orangtuanya sudah tua renta. Tidaklah mengapa apabila dilakukan dengan kemauannya sendiri.
7.       Tidak mau mengakui orangtuanya, karena beberapa sebab, seperti, orangtua yang sudah pikun, bertubuh cacat, jelek, dll.
8.       Berdebat kepada orangtua, dengan cara yang tidak baik, tidak santun, cenderung mendikte kedua orangtuanya.
9.       Mencemarkan nama baik kedua orangtua, menjelek-jelekan kedua orangtuanya sehingga orang lain mengetahui kejelekan kedua orangtua kita.
10.    Mendahulukan taat kepada istri baru orangtua, bahkan ada orang yang mengusir orantua nya demi memenuhi perintah istrinya, Na’udzubillah minzalik.

Demikianlah beberapa bentuk durhaka kepada orangtua dan masih banyak lagi bentuk-bentuk durhaka yang lain, semoga kita dapat mengambil pelajaran oleh karena itu jagalah sikap kita dan ucapan kita baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja dan jangan sampai kita sebagai seorang anak terjerumus masuk kedalam neraka hanya karena kita memandang hina dan rendah orangtua kita yang yang sudah tua renta, pikun, tuli (sekalipun mereka malas beribadah) mereka tetaplah orangtua kita yang wajib diperlakukan dengan baik dan penuh dengan kasih sayang.


Minggu, 04 Agustus 2013

Tiga prinsip meyakini awal Ramadhan sebuah negara tentang melihat hilal

Ada dua kalimat yg harus kita pahami berkaitan dengan datangnya awal Ramadhan, Pertama : "menentukan", kedua: "meyakini" . Kalimat "menentukan" adalah kalimat yang hanya pantas digunakan untuk pemerintah yang sah dan berwenang dalam menginformasikan datangnya awal Ramadhan. Sedangkan kalimat "meyakini" adalah kalimat yg dapat dipakai oleh setiap individu muslim dalam membuat keputusan untuk dirinya dalam hal awal Ramadhan. Dua kalimat ini perlu dijelaskan menimbang kondisi bangsa Indonesia yang memiliki banyak corong dalam mensosialisasikan kedatangan awal Ramadhan. Guna meredam kebingungan yang terjadi kpd masyarakat awam maka kondisi seperti ini harus segera dijernihkan agar tidak menimbulkan fitnah.
Oleh karena itu seluruh organisasi islam di Indonesia tidak berhak "menentukan" awal bulan Ramadhan. Kita hendaknya sepakat bahwa sosialisasi awal Ramadhan hanya menjadi hak dan wewenang pemerintah pusat suatu negara, sejarah Islam menceritakan apabila seorang anggota masyarakat melihat hilal awal Ramadhan maka ia melaporkan hal itu kepada Nabi Saw. Ia tidak berteriak sendiri dan mengajak orang lain berpuasa. itulah sikap bijaksana yg harus kita contoh
Ada tiga prinsip untuk meyakini awal Ramadhan dengan pengakuan sebuah negara tentang melihat hilal, Yaitu:
1. Ikhtilafu al mathali
setiap daerah memiliki tempat penampakan hilal (rukyat) masing-masing. Oleh karena itu tidak wajib bagi penduduk suatu daerah untuk mengikuti rukyat yg diumumkan oleh daerah lain. contoh : jika kerajaan saudi arabia mengumumkan ttg penampakan hilal hari senin dan puasa Ramadhan jatuh pd hari selasa maka negara lain tidak wajib mengikuti pengumuman tersebut karena masing2 negara memilki penampakan hilal yg berbeda. ini adalah pebdapat minoritas sebagian ulama.
2. Wihdatu al mathali
Seluruh negara di dunia ini memiliki satu penampakan hilal saja. Oleh karena itu jika suatu negara telah mengumumkan penampakan hilal Ramadhan maka seluruh negara wajib mengikuti pengakuan tersebut. Contoh ; jika saudi Arabia mengumumkan bahwa rukyat telah terjadi pada hari selasa dan puasa Ramadhan dimulai hari Rabu maka umat Islam di seluruh negara di dunia harus mengikutinya. karena tidak akan ada lagi rukyat hilal setelah itu. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.
3. Antara ikhtilafu al mathali dan wihdatu al mathali.
Ini adalah pendapat yg mencoba menengahi antara kedua pendapat di atas bahwa negara-negara di muka bumi ini terbagi menjadi dua, yaitu negara yg memiliki kesamaan malam dan negara yg berbeda malamnya satu dengan yg lain. Sebagai contoh Indonesia, malaysia, Thailand dan Saudi Arabia memiliki kesamaan malam dan siang, tetapi Indonesia dan Amerika tidak memiliki kesamaan malam dan siang. Oleh karena itu bagi negara-negara yang memiliki kesamaan malam dan siang. Jika salah satu dari negara tersebut telah bersaksi tentang penampakan hilal maka negara yang lain yang sama malam dan siangnya wajib mengikuti persaksian negara tersebut, begitu juga sebaliknya.
pendapat ketiga inilah yang seharusnya dipakai oleh pemerintah untuk meyakini awal Ramadhan apabila dengan menggunakan metode hilal (rukyat).
Ahmad Bisyri Syakur, Lc, M.A. dalam bukunya The Pocket Fiqh, cara baru memahami Fiqih dengan praktis dan cepat. 
Wallahu' alam bishawab

Kamis, 25 Juli 2013

Tiga Amalan Utama

Dunia ini merupakan ladang amal yang sangat luas, banyak amalan-amalan soleh yang dapat kita lakukan baik berkaitan dengan amalan pribadi, masyarakat atau orang lain. namun demikian dari berbagai macam amalan itu ada beberapa amalan yangsangat utama yang harus kita lakukan sehingga kita mendapatkan tempat di Syurga Allah swt. Rasulullah saw bersabda " amalan yang paling utama adalah memberi kebahagiaan kepada orang mukmin, engkau tutup auratnya, dan engkau kenyangkan perutnya atau engkau penuhi kebutuhannya". dari hadits di atas ada tiga amal utama yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat yang pertama adalah, memberi kebahagiaan kepada orang yang sangat membutuhkan. Banyak orang yang dirundung kesedihan dan permasalahan hidup sehingga tidak semangat menjalani kehidupan ini. Rasulullah saw dan para sahabat adalah orang yang paling sering menolong orang yang membutuhkan, orang yang suka menlong orang lain janji Allah swt adalah akan mendapatkan ampunan. Rasulullah saw bersabda " diantara amalan yang akan mendaptkan ampunan apabila dikerjakan adalah, memberi kebahagiaan kepada orang lain". Rasulullah pernah memberi makan seorang nenek yahudi yang sudah tua renta sampai beliau wafat lalu diteruskan kebiasaan tersebut oleh sahabat-Nya Abu Bakar As Shiddiq, lalu dikisah yang lain pada saat Rasulullah ingin pergi sholat idul fitri dijumpai seorang anak kecil yang nampak murung, dengan pakaian yang lusuh, dan belum mandi. lalu Nabi berkata kepada anak tersebut, wahai nak, kenapa engkau nampak murung? sedangkan teman-temanmu yang lain sedang berbahagia. sambil  tetap menunduk anak itu menjawab iya , aku sangat sedih karena hidup sebatang kara tidak mempunyai ibu dan bapak. lalu Nabi bertanya lagi kepada anak itu, maukah engkau jadikan hasan dan husein sebagai teman mainmu dan fatimah sebagai kakakmu, mendengar itu spontan anak itu sangat senang sekali anak itu baru menyadari bahwa yang berkata dengannya adalah Rasulullah saw, anak itu menjawab "mau" ya Rasulullah.  Seketika itu Rasulullah saw mengajak anak itu pulang dan memandikannya, lalu memberikannya makan, dan memakai wewangian. Lalu mereka berjalan menuju tempat sholat Idul Fitri dan anak itu bermain sangat senang sekali, lalu amalan utama yang kedua adalah engkau tutupi aurat saudaramu, yang dimaksud aurat disini adalah aib, kelemahan, kekurangan atau kejelekan. sama halnya dengan aib, aurat adalah sesuatu yang kita tidak suka apabila diketahui oleh orang lain dan biasanya kita menutup aurat tersebut begitu juga halnya dengan aib. manakala kita berukhuwah dan kita mengetahui kelemahan, kekurangan dari saudara kita maka sudah seharusnya kita menjaga aibnya tersebut dan Allah swt akan menutup aib kita apabila kita menutup aib saudara kita. Rasulullah saw bersabda " Barangsiapa yang menutup aib saudara muslimnya, maka Allah swt akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat". sehingga kita dapat terjaga dari segala fitnah dunia. Lalu amalan utama yang ketiga adalah engkau memberi makan saudaramu, suatu perbuatan yang sangat utama adalah apabila kita mampu memberi makan orang lain yang sangat membutuhkan, karena dengan memberi makan orang lain kita termasuk orang yang peduli terhadap ummat ini, mengentaskan kemiskinan, dan memupuk rasa persaudaraan yang tinggi sehingga terwujudnya kehidupan yang sejahtera, adil dan beradab. Rasulullah saw bersabda, "sembahlah Allah yang Maha Rahman, dan berikanlah makan, tebarkanlah salam niscaya kalian akan masuk kedalam syurga dengan selamat". Apalagi kita tidak memberi makan tetangga kita yang sedang dalam keadaan kelaparan, maka kita akan mendapatkan kerugian baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah saw bersabda, " tidak beriman kepadaku (Muhammad saw) orang yang tidur dalam kedaan kenyang sedang tetangganya dalam keadaan kelaparan sedang kamu mengetahuinya". Itulah tiga amalan utama yang harus kita lakukan apabila kita ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk melakukannya.